Nasional

📌 Polemik Parkir Digital Mie Gacoan Mayjen Sungkono: Ormas Menolak, Pemkot Gelar Rapat Bersama Cari Solusi Damai

Nasional

Surabaya – Kehangatan hidangan mie pedas di gerai Mie Gacoan Mayjen Sungkono sedikit terhalang oleh polemik yang mengemuka. Sejumlah organisasi masyarakat (ormas) mengajukan penolakan terhadap penerapan sistem parkir digital di lokasi tersebut, yang sempat menimbulkan ketegangan pada akhir pekan lalu. Pemerintah Kota Surabaya segera merespons dengan menggelar rapat bersama semua pihak terkait untuk mencari solusi yang mengakomodasi kepentingan semua belah pihak.

Peristiwa dimulai ketika gerai Mie Gacoan Mayjen Sungkono mengumumkan penerapan sistem parkir digital mulai tanggal 25 Desember 2025. Sistem ini memungkinkan pelanggan membayar parkir melalui aplikasi ponsel atau mesin self-service, tanpa perlu melibatkan juru parkir konvensional. Kebaruan ini langsung mendapatkan reaksi negatif dari sejumlah ormas yang mengklaim mewakili kepentingan juru parkir di sekitar lokasi.

“Kami tidak menolak kemajuan teknologi, tetapi harus mempertimbangkan nasib para juru parkir yang selama ini menggantungkan hidupnya dari pengelolaan parkir di sini,” ujar perwakilan salah satu ormas yang berpartisipasi dalam penolakan, ketika dihubungi pada Sabtu (27/12/2025). “Sudah bertahun-tahun mereka bekerja di sini, sekarang tiba-tiba dibuang seperti itu. Bagaimana nasib keluarga mereka?”

Menanggapi penolakan, pihak manajemen gerai Mie Gacoan Mayjen Sungkono menyatakan bahwa penerapan parkir digital bertujuan untuk meningkatkan keamanan, kenyamanan, dan transparansi bagi pelanggan. “Kami selalu berusaha memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan. Sistem parkir digital ini dirancang untuk mengurangi antrian, mencegah penipuan, dan memudahkan pelanggan dalam membayar,” jelas [Nama Manajer Gerai Mie Gacoan], dalam keterangan resmi.

Ia juga menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan pertimbangan terhadap nasib juru parkir konvensional. “Kami telah menawarkan pelatihan untuk membantu mereka beralih ke peran baru di sistem parkir digital, seperti petugas bantuan atau pemelihara mesin. Namun, penawaran ini belum diterima dengan baik,” katanya.

Pemkot Surabaya Turun Tangan, Gelar Rapat Bersama

Menyadari potensi konflik yang semakin membesar, Dinas Perhubungan Kota Surabaya mengundang semua pihak – ormas, manajemen Mie Gacoan, juru parkir konvensional, dan tokoh masyarakat lokal – untuk mengikuti rapat mediasi pada Minggu (28/12/2025). Tujuan rapat ini adalah untuk mendengar aspirasi semua pihak dan mencari solusi yang adil dan berkelanjutan.

“Kami tidak mengizinkan konflik semacam ini berlanjut karena akan berdampak negatif pada pelanggan, pedagang sekitar, dan citra kota Surabaya,” ujar [Nama Pejabat Dinas Perhubungan Surabaya]. “Kita harus menemukan titik temu di mana kemajuan teknologi dapat berjalan berdampingan dengan perlindungan terhadap mata pencaharian warga.”

Selain itu, polemik ini juga menarik perhatian pelanggan Mie Gacoan. Beberapa pelanggan mengaku khawatir akan ketidaknyamanan jika situasi tidak segera diselesaikan. “Saya suka makan di sini, tapi saya tidak mau terlibat dalam konflik. Semoga pihaknya segera menemukan solusi,” ujar Siti, salah satu pelanggan yang sering mengunjungi gerai tersebut.

Pedagang di sekitar gerai juga menyampaikan kekhawatiran. Mereka takut penolakan akan mengurangi jumlah pelanggan yang datang, sehingga berdampak pada pendapatan mereka. “Jika pelanggan takut datang karena ada ormas yang menolak, maka kita juga yang rugi,” ujar Budi, pemilik warung kopi di dekat Mie Gacoan.

Solusi Potensial: Sistem Parkir Hybrid

Selama rapat mediasi yang berjalan damai, salah satu solusi yang muncul adalah penerapan sistem parkir hybrid – mengkombinasikan sistem digital dan konvensional. Dalam sistem ini, sebagian area parkir akan dikelola secara digital, sementara sebagian lainnya tetap dikelola oleh juru parkir konvensional yang telah diberikan pelatihan.

Ormas dan juru parkir konvensional menunjukkan sinyal positif terhadap usulan ini, meskipun masih membutuhkan diskusi lebih lanjut. Pihak Mie Gacoan juga menyatakan bersedia untuk berkompromi demi menyelesaikan konflik.

“Kami siap bekerja sama dengan semua pihak untuk menemukan solusi yang terbaik. Yang terpenting adalah semua pihak merasa puas dan situasi kembali tenang,” tegas manajer gerai Mie Gacoan.

Sampai saat ini, rapat mediasi masih berlangsung. Semua pihak diharapkan dapat bersikap terbuka dan konstruktif untuk menemukan solusi yang adil dan berkelanjutan, sehingga polemik parkir digital ini dapat segera usai dan kehidupan bisnis di sekitar gerai Mie Gacoan Mayjen Sungkono kembali normal.

Kata Akhir: Kemajuan Tanpa Meninggalkan Siapa Pun – Surabaya Berusaha Menyeimbangkan Teknologi dan Kesejahteraan Warga

(Gareng/ Gufron)

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *