
Surabaya,Kisah seorang mahasiswi berprestasi di Kota Surabaya yang terpaksa melakukan tindakan pencurian karena terdesak kondisi ekonomi untuk membayar biaya indekos menjadi sorotan publik dan menyentuh hati banyak orang. Saat bertemu dengan Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, didampingi oleh sang ibu, mahasiswi tersebut tidak dapat menahan tangis penyesalan sambil mengaku bahwa tindakan yang dilakukan bukanlah hal yang diinginkan, namun terpaksa dilakukan akibat keterbatasan keuangan yang dialaminya.
Kasus ini awalnya terungkap setelah korban melaporkan adanya barang hilang dari tempat tinggalnya di kawasan Kecamatan Wonocolo, Surabaya. Setelah melalui proses penyelidikan yang cermat oleh tim penyidik Polrestabes Surabaya, pihak kepolisian berhasil mengidentifikasi pelaku sebagai seorang mahasiswi aktif di salah satu perguruan tinggi ternama di Surabaya, yang memiliki prestasi akademik gemilang dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3,85. Kondisi ekonomi keluarga yang tidak mampu menjadi alasan utama yang membuatnya terpaksa mengambil langkah salah tersebut.
Dalam video yang diunggah langsung oleh Kombes Pol Luthfie Sulistiawan melalui akun Instagram resminya, mahasiswi tersebut dengan nada menangis mengaku bahwa ia berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi lemah. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani di desa asalnya, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga yang tidak memiliki penghasilan tetap. “Saya tidak punya pilihan lain, Pak. Biaya indekos sudah terlambat dibayar, dan saya juga perlu uang untuk makan serta keperluan akademik. Saya tahu apa yang saya lakukan salah, tapi saya benar-benar terdesak,” ujarnya sambil menepuk dada dengan penuh penyesalan.
Sang ibu yang menemani putrinya saat bertemu Kapolrestabes juga tidak dapat menahan air mata, menyampaikan bahwa keluarga telah berusaha semaksimal mungkin untuk mendukung pendidikan anaknya. “Kami sudah berusaha mengumpulkan uang setiap bulan, tapi terkadang tidak cukup untuk semua kebutuhan dia di kota. Saya sangat menyesal tidak bisa memberikan lebih banyak untuknya,” ujar sang ibu dengan suara menggigil.
Setelah mendengar penjelasan dan melihat latar belakang kondisi keluarga mahasiswi tersebut, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan memutuskan untuk menerapkan konsep keadilan restoratif dalam menangani kasus ini. Konsep ini bertujuan untuk memperbaiki hubungan antara pelaku dan korban, serta memberikan kesempatan bagi pelaku untuk memperbaiki diri tanpa harus melalui proses hukum yang panjang dan berpotensi merusak masa depan akademik dan karirnya.
Pihak kepolisian kemudian mengatur pertemuan antara mahasiswi tersebut dengan korban. Setelah mendengar cerita dan kondisi yang dialami oleh pelaku, korban dengan lapang dada menyatakan kesediaan untuk mengampuni dan tidak melanjutkan proses hukum. Kedua belah pihak pun sepakat untuk berdamai, dengan mahasiswi tersebut secara sungguh-sungguh meminta maaf atas tindakan yang telah dilakukan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Tidak hanya itu, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan juga secara pribadi menyatakan kesediaannya untuk membantu membayar biaya indekos mahasiswi tersebut selama beberapa bulan ke depan, hingga ia dapat menemukan cara untuk memenuhi kebutuhan ekonominya dengan cara yang benar. “Kita tidak bisa hanya melihat sisi hukum semata dalam kasus seperti ini. Anak muda ini memiliki masa depan yang cerah dengan prestasi akademik yang luar biasa. Sebagai pihak berwenang, kita memiliki tanggung jawab untuk membantu mereka yang benar-benar membutuhkan, bukan hanya menerapkan hukuman,” jelas Kapolrestabes dalam keterangannya.
Dalam percakapan yang tercatat dalam video tersebut, Luthfie juga menanyakan kepada mahasiswi tersebut bagaimana ia bisa bertahan hidup dengan uang saku yang sangat terbatas. “Berapa uang yang kamu miliki dalam sebulan untuk memenuhi kebutuhanmu?” tanya Luthfie. Mahasiswi tersebut menjawab bahwa ia hanya memiliki uang saku sekitar Rp200 ribu per bulan dari hasil kiriman keluarga dan beberapa pekerjaan lepas kecil yang bisa ia lakukan di luar jam kuliah. “Saya biasanya masak nasi sendiri di kamar indekos, dengan lauk sederhana seperti telur dadar atau mie instan yang murah. Kadang-kadang saya hanya makan sekali atau dua kali sehari agar uang bisa cukup untuk seminggu,” jelasnya dengan mata penuh haru.
Kisah ini segera menyebar luas di media sosial dan menuai simpati dari banyak kalangan masyarakat. Banyak orang yang memberikan dukungan serta menawarkan bantuan baik dalam bentuk materi maupun pekerjaan paruh waktu yang dapat dilakukan oleh mahasiswi tersebut tanpa mengganggu aktivitas akademiknya. Beberapa perguruan tinggi di Surabaya juga menyatakan kesediaan untuk mengevaluasi program beasiswa dan bantuan keuangan bagi mahasiswa berprestasi yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Peristiwa ini kembali menyoroti kerasnya tekanan ekonomi yang masih menghantui sebagian besar mahasiswa berprestasi di Indonesia, terutama mereka yang berasal dari daerah dan tinggal di kota besar seperti Surabaya. Biaya hidup yang terus meningkat, ditambah dengan biaya pendidikan yang tidak sedikit, seringkali menjadi beban berat yang membuat mereka terpaksa menghadapi pilihan sulit. Banyak pihak yang berharap bahwa kasus ini dapat menjadi momentum bagi pemerintah dan lembaga pendidikan untuk lebih memperhatikan kondisi ekonomi mahasiswa serta menyediakan fasilitas dan bantuan yang lebih komprehensif.
Saat ini, mahasiswi tersebut telah kembali melanjutkan aktivitas akademiknya dan sedang bekerja sama dengan pihak kampus untuk mendapatkan bantuan keuangan serta kesempatan magang yang dapat membantu memenuhi kebutuhan ekonominya. Kapolrestabes Surabaya juga mengungkapkan bahwa pihaknya akan terus memantau perkembangan kondisi mahasiswi tersebut dan siap memberikan bantuan jika diperlukan. “Kita berharap bahwa pengalaman pahit ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi dirinya dan juga bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap sesama yang sedang mengalami kesulitan,” pungkas Luthfie.
(red)

