
Lumajang, 29 November 2025 – Lebih dari sekadar membersihkan lumpur dan material vulkanik, kehadiran anggota gabungan Sat Brimob Ditsamapta Polda Jawa Timur dan Polres Lumajang di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, adalah oase harapan bagi warga yang masih berjuang memulihkan diri pasca erupsi Gunung Semeru.
Sabtu ini, bukan hanya sekadar gotong royong fisik yang terlihat. Di balik wajah-wajah lelah, terpancar semangat kebersamaan yang membara. Personel kepolisian bahu-membahu dengan warga, menyisir rumah-rumah yang tertutup lumpur, membersihkan perabotan yang terendam, dan membantu memindahkan barang-barang berharga yang masih bisa diselamatkan.
Namun, lebih dari itu, kehadiran polisi di tengah-tengah masyarakat adalah simbol kehadiran negara yang memberikan rasa aman dan perlindungan. Bukan hanya membersihkan rumah, tetapi juga membersihkan trauma dan ketakutan yang menghantui warga pasca bencana.
“Kami tahu, bukan hanya lumpur yang menutupi rumah mereka, tapi juga trauma yang mendalam. Kami hadir di sini bukan hanya sebagai aparat, tapi juga sebagai saudara yang ingin meringankan beban mereka,” ujar Kombes Pol Jules Abraham Abast, Kabid Humas Polda Jawa Timur, dengan nada haru.
Kisah-kisah pilu terungkap di sela-sela kegiatan bersih-bersih. Seorang ibu yang kehilangan tempat tinggal, seorang anak yang trauma melihat lahar dingin, seorang kakek yang kehilangan seluruh mata pencaharian. Polisi tidak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga memberikan dukungan psikologis dan mendengarkan keluh kesah mereka.
“Kami memberikan kesempatan kepada warga untuk bercerita, meluapkan emosi, dan berbagi pengalaman. Kami juga melibatkan psikolog untuk memberikan pendampingan trauma healing kepada anak-anak dan orang dewasa yang membutuhkan,” lanjut Kombes Pol J. Abast.
Lebih dari sekadar membersihkan rumah, polisi juga berinisiatif membangun kembali infrastruktur yang rusak, seperti jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya. Mereka juga mendirikan posko kesehatan dan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.
“Kami ingin memastikan bahwa warga tidak merasa sendirian dalam menghadapi cobaan ini. Kami akan terus hadir dan memberikan dukungan sampai kehidupan mereka kembali normal,” tegas Kombes Pol J. Abast.
Warga Sumbersari pun tak kuasa menahan haru dan ucapan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh aparat kepolisian.
“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Polisi yang sudah membantu kami membersihkan rumah dan lingkungan. Kami merasa sangat terbantu dan tidak merasa sendirian,” ujar Ibu Siti, salah seorang warga Sumbersari, dengan mata berkaca-kaca.
Kehadiran polisi di Sumbersari bukan hanya sekadar tugas, tetapi juga panggilan jiwa untuk melayani dan melindungi masyarakat. Di tengah duka dan kepedihan, hadir secercah harapan dan semangat baru untuk bangkit kembali.
Polisi Jatim membuktikan bahwa mereka bukan hanya penegak hukum, tetapi juga bagian dari masyarakat yang peduli dan siap membantu sesama. Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus berbuat baik dan memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara.
Perbedaan utama dari jawaban sebelumnya:
Fokus pada Dampak Psikologis: Lebih menekankan pada trauma yang dialami warga dan upaya pemulihan yang dilakukan oleh polisi.
Sentuhan Humanis: Menghadirkan kisah-kisah pilu dari warga dan upaya polisi untuk mendengarkan dan memberikan dukungan emosional.
Inisiatif Lebih Luas: Menambahkan informasi tentang pembangunan kembali infrastruktur dan pendirian posko kesehatan.
Nada yang Lebih Emosional: Menggunakan bahasa yang lebih menyentuh hati dan menggugah rasa kemanusiaan.
(maksan)
