Nasional

DI BAWAH BAYANG-BAYANG ANCAMAN: RP 2 TRILIUN DAN GERTAKAN MILITER TAK GOYAHKAN BURHANUDDIN, JAKSA AGUNG YANG TEGAK DI TENGAH KEPUNGAN INTIMIDASI

Nasional

JAKARTA – Di ruang kerjanya yang hening di lantai atas Gedung Kejaksaan Agung, Jaksa Agung ST Burhanuddin memegang beban yang mungkin akan membuat orang biasa sulit bernapas. Bukan sekadar tumpukan berkas perkara yang menumpuk di mejanya, melainkan sebuah pertaruhan harga diri bagi seluruh institusi penegak hukum di tengah kepungan intimidasi yang datang dari berbagai arah.

Baru-baru ini, publik dikejutkan oleh pengakuan blak-blakan pria berkumis tebal ini. Burhanuddin mengungkapkan bahwa jalan yang ia tempuh selama ini dalam memberantas korupsi tidak hanya beraspal terjal dan bergelombang, tapi juga dipenuhi dengan ranjau tersembunyi yang siap menghancurkan dirinya dan keluarga jika ia tidak mundur dari kasus-kasus besar yang sedang digarap.

Bayangkan seorang petinggi hukum negara sedang fokus mengolah berkas perkara, tiba-tiba didatangi oleh seseorang yang mengaku sebagai anggota militer, lalu menyampaikan ancaman yang terdengar seperti straight dari skenario film aksi. “Jika keluarga saya tidak dibebaskan, saya luluhlantakkan gedung ini,” kenang Burhanuddin dengan nada tenang saat menirukan kalimat gertakan si pengancam yang datang ke kantornya beberapa waktu lalu.

Namun, alih-alih menunjukkan tanda-tanda panik atau segera memanggil pasukan pengamanan tambahan, Burhanuddin menjawab dengan sikap yang dingin dan tegas. Bagi pria kelahiran 1965 ini, tembok-tembok beton yang menjadikan struktur Gedung Kejaksaan Agung bukanlah milik pribadi atau institusi semata, melainkan benda mati yang menjadi milik rakyat seluruh Indonesia.

“Silakan saja, gedung ini punya rakyat, punya negara. Silakan kalau mau,” tantangnya balik dengan nada yang tidak bisa ditembus. Jawaban ini bukan sekadar bentuk keberanian semata, melainkan sebuah pernyataan tegas bahwa kekuasaan hukum tidak bisa disandera oleh ancaman fisik atau tindakan teror yang dilakukan oleh pihak manapun.

Jika gertakan fisik dan ancaman kehancuran tidak mempan untuk membuatnya mundur, musuh-musuh penegakan hukum ternyata punya senjata lain yang kerap membuat banyak orang terjatuh: rayuan materi yang tak tertandingi. Burhanuddin mengungkapkan bahwa ia pernah ditawari apa yang ia sebut sebagai “tiket keluar” dari kasus-kasus korupsi yang sedang ditangani, dengan nilai fantastis mencapai Rp 2 triliun. Sebuah angka yang cukup untuk mengubah hidup siapa pun dalam sekejap dan memenuhi segala keinginan selama-lamanya.

Namun bagi Burhanuddin, angka besar itu bukanlah sebuah keberuntungan atau jalan keluar yang menggiurkan, melainkan sebuah noda hitam yang bisa menghapus seluruh jejak perjuangan kariernya selama puluhan tahun. Ia memilih untuk tetap “membeku”—istilah yang ia gunakan untuk menggambarkan keteguhan hati dan tekadnya yang tak tergoyahkan saat ditekan dengan berbagai godaan.

“Ini marwah kejaksaan dan marwah saya secara pribadi. Saya pantang untuk surut,” tegasnya dengan tatapan mata yang menyala. Bagi Jaksa Agung yang menjabat sejak tahun 2021 ini, sekali ia melangkah maju untuk mengusut sebuah kasus, maka tidak ada jalan untuk berbalik arah atau mencari jalan pintas, apa pun risiko yang harus dihadapi baik bagi dirinya maupun keluarga tercinta.

Sisi paling humanis sekaligus paling tegas dari pribadi Burhanuddin muncul ketika ia berbicara tentang keluarga—suatu hal yang kerap menjadi titik lemah bagi banyak pejabat publik yang akhirnya terjebak dalam korupsi atau praktik tidak jujur lainnya. Namun, ia sejak hari pertama dilantik sebagai Jaksa Agung sudah memasang batas yang sangat tegas bagi semua anggota keluarga.

Bahkan kepada saudaranya sendiri, TB Hasanuddin yang merupakan politikus senior dari salah satu partai besar di Indonesia, ia sudah memberikan ultimatum yang tak bisa dinegosiasikan: Jika kelak ditemukan berbuat pidana atau terlibat dalam kasus hukum, jangan pernah harap ada bantuan atau perlindungan khusus dari sang Jaksa Agung.

Komitmen “tanpa pandang bulu” ini kemudian menjadi fondasi bagi seluruh korps Adhyaksa di seluruh Indonesia untuk terus bergerak dan mengusut setiap kasus korupsi tanpa memandang latar belakang atau kedudukan pelaku. Pengakuan terbuka dari Burhanuddin ini menjadi sebuah pengingat bagi seluruh publik bahwa di balik setiap kasus korupsi besar yang berhasil terungkap dan mendapatkan putusan hukum, ada sebuah perang saraf yang terjadi di balik pintu tertutup—sebuah perang tanpa senjata antara integritas yang tak tergoyahkan melawan intimidasi dan godaan yang terus menerus datang menghampiri.

(*)

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *