Nasional

Lapas Kelas IIA Sidoarjo Panen Telur Pertama dari Program Pembinaan Ayam Petelur – Program Kemandirian Berjalan Setahun Berhasil Bekali WBP Keterampilan Praktis dan Bentuk Karakter Tanggung Jawab

Nasional

Sidoarjo, 9 Februari 2026 – Lapas Kelas IIA Sidoarjo yang berada di bawah naungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan program pembinaan yang memberikan dampak nyata bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Salah satu program unggulan yang kini mulai menunjukkan hasil positif adalah kegiatan pembinaan kemandirian berupa budidaya ayam petelur, yang pada hari ini melaksanakan proses pemanenan telur dengan melibatkan langsung WBP yang tergabung dalam program tersebut. Setelah berjalan selama satu tahun dengan semangat “Bergerak – Berdampak”, program ini tidak hanya menghasilkan produk konkret tetapi juga berhasil membentuk karakter dan kemampuan praktis bagi para WBP.

Kegiatan panen telur yang berlangsung di area peternakan khusus Lapas Kelas IIA Sidoarjo dipimpin oleh kelompok WBP yang telah menjalani pelatihan intensif di bidang peternakan sejak awal pelaksanaan program. Para WBP secara aktif terlibat dalam seluruh tahapan budidaya, mulai dari perawatan kandang untuk menjaga kebersihan dan kesehatan ayam, pemberian pakan serta air minum secara terjadwal, pemantauan kondisi kesehatan ternak, hingga proses pemanenan telur yang dilakukan secara rutin setiap pagi.

Dalam sambutannya saat acara panen, Kepala Lapas Kelas IIA Sidoarjo menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian penting dari implementasi pembinaan berbasis produktivitas yang dirancang untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi WBP. “Melalui program peternakan ayam petelur ini, kami tidak hanya ingin menghasilkan telur yang bermanfaat, tetapi lebih utama adalah memberikan bekal keterampilan yang dapat dimanfaatkan WBP setelah bebas nanti. Tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membentuk karakter mandiri dan siap berdaya saing di tengah masyarakat,” jelasnya.

Program budidaya ayam petelur ini diawali pada bulan Februari 2025 dengan pendirian kandang yang dirancang secara sederhana namun memenuhi standar kesehatan dan keamanan ternak. Awalnya, lapas menghadirkan instruktur dari Dinas Peternakan Kabupaten Sidoarjo untuk memberikan pelatihan dasar tentang teknik budidaya ayam petelur, manajemen kandang, serta pencegahan dan penanganan penyakit pada ternak. Seiring berjalannya waktu, para WBP mulai mampu mengelola program secara mandiri, dengan pengawasan tetap dari petugas lapas dan instruktur konsultan.

Salah satu WBP yang terlibat dalam program ini, yang tidak dapat disebutkan namanya untuk menjaga privasi, menyampaikan rasa bangganya atas hasil yang telah dicapai. “Sebelumnya saya tidak tahu sama sekali tentang cara merawat ayam petelur. Melalui program ini, saya belajar banyak hal – mulai dari bagaimana membuat pakan yang sehat, menjaga kebersihan kandang, hingga cara memanen telur dengan benar. Saya berharap setelah keluar nanti, saya bisa membuka usaha peternakan kecil sendiri untuk mendukung keluarga,” ujarnya dengan penuh semangat.

Hasil panen telur dari program ini sebanyak kurang lebih 350 butir per hari saat ini dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung kebutuhan internal lapas, seperti menyediakan telur sebagai bagian dari menu makanan WBP dan petugas. Selain itu, sebagian hasil panen juga dikembangkan sebagai bagian dari program pemberdayaan ekonomi produktif, di mana telur yang berlebih dijual kepada masyarakat sekitar dengan harga yang bersaing, dan hasil penjualannya digunakan untuk membiayai operasional program serta memberikan insentif kecil kepada WBP yang berpartisipasi aktif.

Selain memberikan keterampilan praktis di bidang peternakan, program ini juga berhasil menumbuhkan rasa tanggung jawab, disiplin, dan kerja sama antar WBP. Para peserta program dibagi menjadi kelompok kecil dengan pembagian tugas yang jelas, sehingga mereka belajar untuk bekerja sama dan bertanggung jawab atas bagian masing-masing. Hal ini dianggap penting sebagai bekal untuk kehidupan setelah mereka kembali ke masyarakat, di mana kemampuan bekerja sama dan memiliki tanggung jawab akan sangat dibutuhkan.

Kepala Lapas juga menambahkan bahwa program pembinaan kemandirian ini merupakan salah satu langkah untuk mengubah paradigma pemasyarakatan dari sekadar penahanan menjadi pembinaan yang fokus pada perbaikan diri dan kesiapan kembali berintegrasi dengan masyarakat. “Kami terus berupaya menghadirkan program pembinaan yang inovatif, berkelanjutan, dan selaras dengan tujuan pemasyarakatan dalam membentuk pribadi WBP yang lebih baik dan mandiri. Selain peternakan ayam petelur, kami juga sedang mempersiapkan program tambahan seperti budidaya jamur dan pembuatan kerajinan tangan untuk memberikan pilihan keterampilan yang lebih beragam bagi WBP,” jelasnya.

Dukungan juga datang dari Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur yang menyatakan bahwa program di Lapas Kelas IIA Sidoarjo menjadi contoh baik bagi lapas-lapas lain di wilayah Jawa Timur dalam mengembangkan program pembinaan berbasis produktivitas. Dengan berjalan selama satu tahun dan menunjukkan hasil yang positif, diharapkan program ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi para WBP serta lingkungan sekitar.

(Gufron)

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *