
Tulungagung, 10 Februari 2026 – Sebuah kejadian mengkhawatirkan terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Bungur Karangrejo Tulungagung, di mana puluhan siswa mengalami gejala mual dan muntah setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada pagi hari ini. Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, dr. Aris Setiawan, mengkonfirmasi bahwa sekitar jam 10.00 WIB, sebanyak 24 siswa melaporkan keluhan yang menunjukkan indikasi keracunan makanan setelah memakan paket MBG yang disediakan sekolah.
Menurut dr. Aris Setiawan, segera setelah menerima laporan dari pihak sekolah, tim medis dari Puskesmas Karangrejo langsung bergerak untuk memberikan penanganan awal. Seluruh 24 siswa yang mengalami keluhan kemudian dibawa ke Puskesmas Karangrejo untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut. Hingga sekitar jam 13.00 WIB, kondisi sebagian besar siswa membaik dengan signifikan, sehingga sebanyak 20 di antaranya sudah diperbolehkan pulang dan dianjurkan untuk istirahat di rumah. Namun, empat siswa lain masih harus menjalani perawatan karena mengalami kondisi dehidrasi akibat muntah yang berulang, meskipun kondisi umumnya sudah stabil dan tidak mengkhawatirkan.
“Kami telah mengambil langkah cepat untuk menangani kasus ini. Selain memberikan penanganan medis kepada siswa yang terkena dampak, tim Dinkes juga telah mengambil sampel makanan yang disantap para siswa untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Sampel yang diambil meliputi seluruh menu MBG yang disajikan hari ini, yaitu nasi, ayam suwir, sayur kacang, tahu, dan kurma. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui penyebab pasti dari keluhan yang dialami siswa, apakah berasal dari kontaminasi bakteri, jamur, atau faktor lain yang terkait dengan keamanan pangan,” jelas dr. Aris dalam keterangan resmi yang diberikan kepada awak media.
Sementara itu, Kepala SDN 3 Bungur Andri Susanto mengaku sangat prihatin dengan kejadian yang menimpa siswa-siswinya. Menurutnya, paket MBG diterima sekolah sekitar jam 07.30 WIB dan segera disajikan kepada siswa karena khawatir makanan akan cepat basi akibat suhu ruangan. Pihak sekolah tidak pernah menyangka akan terjadi hal seperti ini, mengingat beberapa guru yang juga memakan menu MBG yang sama tidak merasakan adanya keluhan atau indikasi makanan yang tidak layak konsumsi.
“Total siswa di SDN 3 Bungur saat ini sebanyak 76 anak, sehingga jumlah siswa yang mengalami gejala hampir mencapai sepertiga dari total jumlah siswa. Sebagian besar mereka berasal dari kelas 5 dan 6, meskipun ada juga beberapa siswa dari kelas yang lebih rendah yang melaporkan keluhan ringan,” ujar Andri Susanto. Ia menambahkan bahwa pihak sekolah telah segera memberitahu kondisi siswa kepada masing-masing orang tua dan bekerja sama erat dengan tim kesehatan dalam menangani situasi ini.
Pihak sekolah juga telah melakukan pemeriksaan ulang terhadap proses penyimpanan dan penyajian makanan MBG hari ini. Menurut catatan yang ada, makanan diterima dalam kondisi tertutup rapi dan disimpan di ruangan yang memiliki suhu yang sesuai sebelum disajikan kepada siswa. Seluruh petugas yang terlibat dalam penyajian makanan juga telah menjalani pemeriksaan kesehatan berkala dan menggunakan peralatan pelindung diri seperti topi dan sarung tangan saat menangani makanan.
Kepala Dinas Pendidikan Tulungagung yang juga telah mendatangi lokasi kejadian menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi bersama dengan Dinkes terkait penyelenggaraan program MBG di sekolah-sekolah di wilayah Tulungagung. “Kami sangat mengutamakan keamanan dan kesehatan siswa. Program MBG dirancang untuk meningkatkan gizi siswa, sehingga kejadian seperti ini tidak boleh terulang kembali. Kami akan bekerja sama dengan semua pihak terkait untuk melakukan penyelidikan mendalam dan mengambil tindakan preventif yang diperlukan,” ujarnya.
Sampai saat ini, tim Dinkes masih terus melakukan pemantauan terhadap kondisi keempat siswa yang masih dirawat di puskesmas. Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan diperkirakan akan menghasilkan hasil dalam waktu 2-3 hari kerja ke depan, yang nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan langkah tindak lanjut yang perlu dilakukan oleh semua pihak terkait. Pihak sekolah juga telah mengumumkan bahwa untuk sementara waktu, penyajian MBG akan disesuaikan dengan prosedur baru yang akan ditetapkan bersama Dinkes dan Dinas Pendidikan untuk memastikan keamanan makanan yang disajikan kepada siswa.
(red)

