Nasional

Suasana Perayaan Tradisi Nyadran Desa Balongdowo Sidoarjo Sempat Memanas Nyaris Baku Hantam – Kronologi Pemicu Belum Jelas, Tokoh Masyarakat dan Panitia Berhasil Redam Ketegangan, Acara Kembali Aman

Nasional

Sidoarjo – Suasana perayaan Tradisi Nyadran tahunan di Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, sempat mengalami ketegangan yang cukup tinggi dan nyaris berujung pada bentrokan fisik pada Minggu (8/2/2026) pagi. Peristiwa yang terjadi di tengah keramaian ratusan warga yang menghadiri acara adat tersebut membuat suasana yang awalnya penuh kebersamaan menjadi tegang sebentar.

Hingga saat ini, kronologi pasti terkait pemicu kejadian yang menyebabkan suasana memanas masih belum dapat diketahui secara jelas oleh pihak panitia maupun tokoh masyarakat. Namun berdasarkan pantauan langsung di lokasi kejadian, situasi mulai menjadi tidak kondusif ketika terjadi perbedaan pandangan antara beberapa kelompok warga di area sekitar lokasi ibadah makam yang menjadi pusat kegiatan Nyadran.

Tradisi Nyadran di Desa Balongdowo sendiri merupakan acara tahunan yang sangat dinanti oleh warga setempat, yang biasanya dilakukan menjelang bulan Ramadhan untuk membersihkan makam leluhur, berbagi makanan, serta mempererat tali silaturahmi antar sesama warga. Acara ini juga menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai budaya dan agama yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Pada hari perayaan kali ini, ratusan warga telah berkumpul sejak pagi hari untuk mengikuti rangkaian acara yang meliputi doa bersama, pembersihan makam, hingga acara makan bersama yang diadakan di halaman sekitar komplek makam Desa Balongdowo. Suasana awalnya berjalan dengan khidmat dan penuh kehangatan hingga sekitar pukul 10.30 WIB, ketika tiba-tiba terjadi kericuhan di salah satu sudut area acara.

Menurut kesaksian beberapa warga yang berada di lokasi saat kejadian, ketegangan dimulai dari sebuah perdebatan yang cukup keras antara beberapa orang, yang kemudian menarik perhatian warga sekitar dan menyebabkan kerumunan. Beberapa orang mulai menunjukkan sikap yang tidak terkendali, membuat situasi semakin memanas dan nyaris berkembang menjadi bentrokan fisik antara kedua kelompok.

Namun beruntung, sebelum situasi menjadi lebih parah, tokoh masyarakat Desa Balongdowo yang terdiri dari kepala desa, tokoh agama, dan tokoh adat segera bergerak cepat untuk menenangkan kedua belah pihak. Mereka didukung oleh anggota panitia penyelenggara yang telah siap siaga mengantisipasi kemungkinan terjadinya masalah selama acara berlangsung.

“Kita langsung mendekati kedua kelompok yang sedang berseteru dan melakukan pendekatan komunikasi secara langsung. Kami mengingatkan mereka bahwa acara ini adalah momen kebersamaan yang harus kita jaga bersama, bukan untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang tidak baik,” ujar Kepala Desa Balongdowo, Slamet Wijaya, saat memberikan keterangan setelah suasana kembali kondusif.

Melalui pendekatan yang penuh kesabaran dan penghormatan terhadap kedua belah pihak, tokoh masyarakat dan panitia berhasil meredam ketegangan dengan cepat. Kedua kelompok yang terlibat dalam perdebatan pun akhirnya bersedia untuk meredakan emosinya dan menerima penyelesaian secara damai.

Setelah situasi kembali aman, panitia penyelenggara segera melakukan evaluasi dan memperkuat pengawasan di seluruh area acara. Rangkaian kegiatan Tradisi Nyadran yang tersisa kemudian dapat dilanjutkan dengan lancar dan kondusif, seperti yang direncanakan sebelumnya. Warga yang hadir juga kembali fokus pada makna dari acara tersebut, dengan suasana yang kembali penuh kehangatan dan kebersamaan.

Ketua Panitia Penyelenggara Nyadran Desa Balongdowo, Supriyanto, menyampaikan rasa syukur bahwa kejadian tidak berkembang menjadi hal yang lebih parah. Menurutnya, meskipun kronologi pasti pemicu kejadian masih belum jelas, pihak panitia akan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab sebenarnya dari peristiwa tersebut dan mengambil langkah pencegahan agar tidak terjadi lagi di masa mendatang.

“Kami sangat bersyukur bahwa tokoh masyarakat dan panitia dapat segera menangani situasi tersebut. Setelah acara selesai, kita akan melakukan temu bersama dengan kedua pihak yang terlibat untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan mencari solusi agar kejadian serupa tidak terulang,” jelas Supriyanto.

Salah satu tokoh agama di Desa Balongdowo, KH. Abdul Rozak, menambahkan bahwa acara adat seperti Nyadran seharusnya menjadi sarana untuk mempererat hubungan antar warga dan memperkuat rasa persatuan. Menurutnya, setiap perbedaan pandangan seharusnya dapat diselesaikan dengan cara yang damai dan penuh penghormatan.

“Kita hidup dalam masyarakat yang beragam, sehingga perbedaan adalah hal yang wajar terjadi. Namun, kita harus mampu menyelesaikan setiap perbedaan dengan cara yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya kita, yaitu dengan saling menghargai dan berkomunikasi dengan baik,” ujar KH. Abdul Rozak.

Masyarakat Desa Balongdowo yang menghadiri acara juga menyampaikan harapan agar kejadian semacam ini tidak terulang lagi di masa mendatang. Mereka berkomitmen untuk menjaga keharmonisan dan kebersamaan dalam setiap acara adat yang diadakan di desa mereka.

“Kita semua sangat menghargai Tradisi Nyadran ini. Semoga kejadian hari ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih menghargai satu sama lain dan menjaga suasana damai dalam setiap kegiatan bersama,” ujar Sri Lestari (35 tahun), salah satu warga Desa Balongdowo yang mengikuti acara.

Acara Tradisi Nyadran di Desa Balongdowo akhirnya dapat ditutup dengan baik pada sore hari, dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama untuk memohon berkah dan ketentraman bagi seluruh warga desa. Pihak panitia juga menyampaikan bahwa mereka akan lebih memperhatikan aspek keamanan dan ketertiban dalam menyelenggarakan acara tahun depan, agar perayaan Tradisi Nyadran dapat terus berjalan dengan khidmat dan menjadi momen kebersamaan yang bermakna bagi seluruh masyarakat Desa Balongdowo.

(red)

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *