
Surabaya, 10 Desember 2025 – Menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), Polda Jawa Timur (Jatim) tidak hanya membentuk Satuan Tugas (Satgas) Premanisme, tetapi meluncurkan program “Jogo Jatim Cerdas” yang mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI), seni budaya, dan pemberdayaan ekonomi untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan inklusif.
“Kami tidak hanya menindak premanisme, tetapi juga mencegahnya dengan cara yang cerdas, kreatif, dan humanis,” tegas Kapolda Jatim, Irjen Pol Drs. Nanang Avianto, M.Si, saat memimpin Apel Satgas Premanisme di Lapangan Mapolda Jatim.
Program “Jogo Jatim Cerdas” meliputi:
AI Deteksi Premanisme: Polda Jatim menggunakan teknologi AI untuk menganalisis data kejahatan, media sosial, dan laporan masyarakat guna mengidentifikasi pola dan lokasi rawan premanisme. “Dengan AI, kami bisa memprediksi potensi gangguan kamtibmas dan mengambil tindakan preventif secara tepat sasaran,” jelas Irjen Nanang.
Seniman Kampanye Damai: Polda Jatim menggandeng komunitas seni dan budaya untuk menggelar kampanye anti-premanisme melalui seni pertunjukan, mural, musik, dan film pendek. “Kami ingin menyampaikan pesan damai dan toleransi melalui bahasa seni yang mudah dipahami oleh masyarakat,” ujar Irjen Nanang.
Mantan Preman Jadi Pengusaha: Polda Jatim memberikan pelatihan keterampilan dan bantuan modal usaha kepada mantan preman agar mereka bisa memiliki pekerjaan yang layak dan meninggalkan dunia kriminal. “Kami percaya bahwa dengan memberikan kesempatan kedua, kita bisa mengubah mantan preman menjadi agen perubahan positif di masyarakat,” jelas Irjen Nanang.
Aplikasi ‘Jogo Jatim’: Polda Jatim mengembangkan aplikasi mobile “Jogo Jatim” yang memungkinkan masyarakat melaporkan kejadian premanisme, memberikan informasi tentang lokasi rawan kejahatan, dan mengakses layanan kepolisian dengan mudah.
Satgas Premanisme tetap fokus pada penindakan tegas terhadap segala bentuk premanisme, dengan tujuh sasaran utama:
Pemerasan & pemalakan di pasar, terminal, serta ruang publik.
Debt collector ilegal yang menagih dengan intimidasi dan kekerasan.
Pungli yang menghambat ekonomi masyarakat.
Preman penganiayaan yang beraksi secara individual.
Preman pengeroyokan berbasis kelompok.
Kekerasan oknum perguruan silat, termasuk fanatisme negatif yang berujung kriminal.
Gangster jalanan yang membawa sajam dan memicu tawuran.
Irjen Nanang berharap, program “Jogo Jatim Cerdas” dapat menciptakan sinergi antara aparat kepolisian, masyarakat, seniman, dan mantan preman untuk membangun Jawa Timur yang aman, damai, dan sejahtera. “Mari kita sambut Nataru dengan semangat kebersamaan dan kreativitas, tanpa bayang-bayang premanisme!” pungkasnya.
(Rudianto/Gareng)
