
Surabaya, 29 November 2025 – Aroma tak sedap menyelimuti penertiban aset Pemkot Surabaya di Tambak Wedi. Alih-alih menciptakan ketertiban, warga justru menuding Camat Kenjeran dan jajarannya bermain mata dengan oknum pelanggar. Praktik tebang pilih yang mencolok membuat kepercayaan publik terkikis, sementara sang camat memilih bungkam seribu bahasa saat dikonfirmasi.
“Kami ini bukan orang bodoh! Sudah jelas-jelas ada bangunan liar berdiri di atas aset pemkot, tapi kenapa dibiarkan? Apa karena ada ‘setoran’ di belakangnya?” geram seorang ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar Tambak Wedi, menyuarakan kekesalannya.
Kejanggalan ini semakin mencolok jika dibandingkan dengan kasus lahan aset di Bulak Banteng. LSM Lembah Arasia yang getol mengusut kasus tersebut, kini justru menjadi pembanding betapa lambannya penanganan di Tambak Wedi.
“Jangan samakan kami dengan Bulak Banteng! Kasus kami ini sudah terang benderang, pelanggaran sudah di depan mata. Kenapa harus menunggu berbulan-bulan untuk penertiban?” timpal seorang pemuda yang mengaku sebagai cucu pemilik lahan yang terancam digusur.
Ironisnya, saat media mencoba mengonfirmasi langsung kepada Camat Kenjeran, respons yang didapatkan justru nihil. Pesan singkat yang dikirimkan melalui aplikasi WhatsApp hanya berujung centang biru tanpa balasan.
“Ada apa dengan Camat Kenjeran? Kenapa sulit sekali dihubungi? Apakah beliau sengaja menghindar karena merasa bersalah?” tanya seorang tokoh masyarakat setempat dengan nada curiga.
Ketidaktransparanan ini memicu spekulasi liar di kalangan warga. Ada yang menduga camat terlibat langsung dalam praktik korupsi, ada pula yang menduga camat hanya menjadi “boneka” dari pihak-pihak yang lebih berkuasa.
Media akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas. Kami akan terus menggali informasi dari berbagai sumber, termasuk warga, LSM, dan pihak kepolisian. Kami tidak akan berhenti sampai kebenaran terungkap dan keadilan ditegakkan.
(red)
